<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Orang Cerdas Ingat Akhirat</title>
	<atom:link href="http://alkayyis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alkayyis.wordpress.com</link>
	<description>La 'Aisya illa 'Aisyatil Akhirah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Nov 2011 03:56:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alkayyis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Orang Cerdas Ingat Akhirat</title>
		<link>http://alkayyis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alkayyis.wordpress.com/osd.xml" title="Orang Cerdas Ingat Akhirat" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alkayyis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Zuhud</title>
		<link>http://alkayyis.wordpress.com/2008/04/08/zuhud-2/</link>
		<comments>http://alkayyis.wordpress.com/2008/04/08/zuhud-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 02:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zuhud]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alkayyis.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alkayyis.wordpress.com&amp;blog=2738542&amp;post=4&amp;subd=alkayyis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya, <span class="searchterm1">zuhud</span> adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Apalagi seorang dai. Jika orang banyak mengatakan dia ”sama saja”, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang didakwahinya. Dakwahnya layu sebelum berkembang. Karena itu, setiap mukmin, terutama para dai, harus menjadikan <span class="searchterm1">zuhud</span> sebagai perhiasan jati dirinya. </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span id="more-4"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah saw. bersabda<em>,”Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan </em><span class="searchterm1"><em>zuhud</em></span><em>lah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu”</em> (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Makna dan Hakikat </span></strong><span class="searchterm1"><strong><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Makna dan hakikat <span class="searchterm1">zuhud</span> banyak diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:10pt;">“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. </span></em><em><span style="font-size:10pt;">Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.</span></em><span style="font-size:10pt;"> <em>Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</em> <em>(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita</em> <em>terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. </em></span><em><span style="font-size:10pt;">Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”</span></em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan tentang makna dan hakikat <span class="searchterm1">zuhud</span>. Ayat ini menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang kekal. Kemudian menganjurkan orang-orang</span><span style="font-size:10pt;" dir="rtl"> beriman untuk berlomba meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat. </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia untuk bersikap <span class="searchterm1">zuhud</span>.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak <span class="searchterm1">zuhud</span> tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia –yang bersifat sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia mencintanya– dan hakikat akhirat –yang bersifat kekal, baik kenikmatannya maupun penderitaannya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demikian juga ketika Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya pada sikap <span class="searchterm1">zuhud</span>, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah bersabda<em>, ”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”</em>(HR Bukhari)<em>.</em> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak mengambil hasil dari semua jerih payahnya di dunia berupa harta dan kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana dan bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah swt. Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris Al-Khaulani berkata, ”Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Dan jika kita ditimpa musibah, maka kita sangat berharap untuk mendapatkan pahala. Bahkan ketika musibah itu masih bersama kita, kita pun berharap bisa menambah dan menyimpan pahalanya.” Ibnu Khafif berkata, ”Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.” Ibnu Taimiyah berkata, ”<span class="searchterm1">Zuhud</span> adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti.”</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Keutamaan </span></strong><span class="searchterm1"><strong><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></strong></span><strong><span style="font-size:10pt;"> terhadap Dunia</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Zuhud merupakan sifat mulia orang beriman karena tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta, wanita, maupun tahta. <span class="searchterm1">Zuhud</span> bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi, orang beriman beramal shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan kenikmatan yang halal di dunia. </span><span style="font-size:10pt;">Pada saat yang sama, hati mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits yang menerangkan keutamaan <span class="searchterm1">zuhud</span> terhadap dunia:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:10pt;">Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.</span></em><span style="font-size:10pt;"> (Ali Imran: 14-15).</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.</span></em><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;">(Al-Kahfi: 45-46)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.</span></em><span style="font-size:10pt;"> (Al-Ankabut: 64).</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat, dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya, ”Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)?” Maka dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.” Kemudian didatangkan orang yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali celupan di surga. Kemudian ditanya, ”Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan (di dunia)?” Maka ia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun.” (HR Muslim)</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah bersabda, “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa yang tersisa.” (HR Muslim)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Tanda-tanda </span></strong><span class="searchterm1"><strong><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda <span class="searchterm1">zuhud</span>, yaitu: </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>pertama</em>, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Kedua</em>, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ketiga</em>, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jadi, tanda <span class="searchterm1">zuhud</span> adalah tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan celaan karena adanya dominasi kedekatan kepada Allah.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yahya bin Yazid berkata, ”Tanda zuhud ada dermawan dengan apa yang ada.” Imam Ahmad bin Hambal dan Sufyan r.a. berkata, ”Tanda <span class="searchterm1">zuhud</span> adalah pendeknya angan-angan.”</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kehidupan <span class="searchterm1">zuhud</span> ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman. Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata<em>, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.” </em></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang <span class="searchterm1">zuhud</span> terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya. Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling <span class="searchterm1">zuhud</span>, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Tingkatan </span></strong><span class="searchterm1"><strong><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Zuhud orang-orang beriman memiliki tingkatan. Zuhud terhadap yang haram, zuhud terhadap yang makruh, zuhud terhadap yang syubhat, dan <span class="searchterm1">zuhud</span> terhadap segala urusan dunia yang tidak ada manfaatnya untuk kebaikan hidup di akhirat.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span class="searchterm1"><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></span><span style="font-size:10pt;"> terhadap yang haram hukumnya wajib. <strong>O</strong>rang-orang beriman harus <span class="searchterm1">zuhud</span> atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. Bahkan sifat-sifat orang beriman, bukan hanya meninggalkan yang diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Allah swt. berfirman, “<em>Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”</em> (Al-Mu’minun: 3). Rasulullah saw. bersabda<em>, </em>”Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Imam Ahmad mengatakan, ”Zuhud ada tiga bentuk. Pertama, meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awwam. Kedua, meninggalkan berlebihan terhadap yang halal, ini adalah zuhudnya golong yang khusus. Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah, dan ini adalah <span class="searchterm1">zuhud</span>nya orang-orang arif.”</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hal yang berkaitan dengan zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah), kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu selain Allah. Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan terhadapnya. Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang yang paling <span class="searchterm1">zuhud</span> di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita, dan kedudukan.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib, semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling <span class="searchterm1">zuhud</span>. Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan 21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Setiap orang beriman harus senantiasa meningkatkan kualitas zuhudnya. Itulah yang akan memberinya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta meraih ridha Allah swt. Orang-orang yang berkerja keras mencari nafkah dengan cara yang halal. Ketika berhasil meraih banyak harta kemudian menunaikan kewajiban atas harta tersebut, seperti zakat, infak, dan lainnya. Dengan berlaku seperti itu, dia termasuk orang zuhud. Orang-orang yang beriman yang memiliki istri lebih dari satu untuk membersihkan dirinya (iffah) adalah termasuk orang yang <span class="searchterm1">zuhud</span>.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sedangkan orang kafir, karakteristiknya adalah rakus terhadap kehidupan dunia dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bagi mereka tidak ada istilah halal dan haram. Mereka tidak mengenal perbedaan antara nikah dengan zina, antara hadiah dengan suap, antara bisnis dengan riba, antara makanan halal dengan yang haram. Bahkan pada hal yang dianggap tabu saja orang-orang kafir berupaya menghalakan semuanya. Perzinaan mereka menghalalkan dengan dalil hak asasi manusia.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Berawal dari kebebasan hak untuk membuka aurat dalam berbusana. Permisif dalam pergaulan dengan membolehkan berduaan di tempat sepi. Berciuman di tempat umum dijadikan hal lumrah. Sehingga, perilaku perzinaan menjadi berita yang selalu dipertontonkan di teve dan dikabarkan di tabliod. Dari mulai perzinaan lelaki dengan perempuan yang belum menikah, perzinaan lelaki dan perempuan yang sudah menikah, sampai perzinaan sejenis: lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan. </span><span style="font-size:10pt;">Dari perzinaan inces sampai perzinaan yang dilakukan bukan pada tempatnya. </span><span style="font-size:10pt;">Begitulah kehidupan orang kafir. Mereka seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi. Allah berfirman, <em>“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” </em>(Muhammad: 12)</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fudhail bin ‘Iyyadh berkata, “Allah menjadikan segenap keburukan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah cinta dunia. Dan Allah menjadikan segenap kebaikan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah <span class="searchterm1">zuhud</span> dari dunia.”</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Tragisnya, kepemimpinan dunia saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Sehingga, kerusakannya sangat dahsyat. </span><span style="font-size:10pt;">Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan. Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral. </span><span style="font-size:10pt;">Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas budaya materialisme itu. Pola hidupnya mirip dengan orang kafir sehingga terjadilah kerusakan yang sangat dahsyat. Realitas seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya dimana umat Islam terkena virus <em>wahn</em> (cinta dunia dan takut mati) dan berpola hidup materialisme hampir sama dengan orang kafir.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling berbahaya. Segala bentuk kejahatan bermuara dari kerakusan terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya, Rasulullah saw. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta, <em>”Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan.”</em> (HR At-Tirmidzi)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Upaya penyadaran kembali umat Islam tentang hakikat dunia dan akhirat sangat penting. Bahwa keimanan terhadap hari akhir adalah prinsip yang harus terus menerus diingat dan ditanamkan kepada umat Islam sehingga motivasi dan tujuan hidup mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. </span><span style="font-size:10pt;">Semakin kuat keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin baik dan semakin <span class="searchterm1">zuhud</span>. Sebaliknya, semakin lemah keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin jahat dan semakin rakus.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam sebuah riwayat disebutkan dua orang <span class="searchterm1">zuhud</span> bertemu, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Syaqiq bertanya kepada Ibrahim, “Apa yang Anda ketahui tentang dunia?” Ibrahim balik bertanya, “Kalau menurut Anda, bagaimana?” Syaqiq menjawab, “Jika kami tidak mendapatkanya, maka kami harus bersabar. Dan jika mendapatkannya, maka kami harus bersyukur.” Ibrahim bin Adham berkata, “Kalau seperti itu, maka anjing Balakh (sebuah kota di Afghanistan) pun melakukannya.” Syaqiq bertanya, “Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?” Ibrahim menjawab, “Jika tidak mendapatkan dunia, kami bersyukur. Dan jika mendapatnya, kami <em>itsaar</em> (mengutamakannya untuk orang lain).” Demikianlah bahwa <span class="searchterm1">zuhud</span> memang memiliki tingkatan.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Kesalahpahaman terhadap </span></strong><span class="searchterm1"><strong><span style="font-size:10pt;">Zuhud</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;">Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud. Banyak yang mengira kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. </span><span style="font-size:10pt;">Tidak demikian, karena meninggalkan harta adalah sangat mudah, apalagi jika mengharapkan pujian dan popularitas dari orang lain. <span class="searchterm1">Zuhud</span> yang demikian sangat dipengaruhi oleh pikiran sufi yang berkembang di dunia Islam. Kerja mereka cuma minta-minta mengharap sedekah dari orang lain, dengan mengatakan bahwa dirinya ahli ibadah atau keturunan Rasulullah saw. Padahal Islam mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Segala yang halal itu jelas dan segala yang haram itu jelas, di antara keduanya ada yang syubhat yang harus kita jauhi dan tinggalkan. Semoga Allah menjadi kita bagian orang yang zuhud dan diberi kita pemimpin <span class="searchterm1">zuhud</span> yang membimbing kita dalam memakmurkan dunia.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alkayyis.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alkayyis.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alkayyis.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alkayyis.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alkayyis.wordpress.com&amp;blog=2738542&amp;post=4&amp;subd=alkayyis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alkayyis.wordpress.com/2008/04/08/zuhud-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanda-Tanda Zuhud</title>
		<link>http://alkayyis.wordpress.com/2008/03/24/tanda-tanda-zuhud/</link>
		<comments>http://alkayyis.wordpress.com/2008/03/24/tanda-tanda-zuhud/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alkayyis.wordpress.com/2008/03/24/tanda-tanda-zuhud/</guid>
		<description><![CDATA[Al Ghazali rah.a berkata: Ketahuilah mungkin ada yang mengira orang yang zuhud adalah orang yang mininggalkan harta, padahal tidakla demikian. Karena mininggalkan harta dan menampakkan hidup prihatin sangat mudah bagi orang yang mencintai pujian sebagai orang zuhud. Betapa banyak rahib yang setiap hari memakan makanan sedikit dan selalu tinggal di biarayang tidak berpintu, tapi tujuannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alkayyis.wordpress.com&amp;blog=2738542&amp;post=3&amp;subd=alkayyis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:10pt;">Al Ghazali rah.a berkata: Ketahuilah mungkin ada yang mengira orang yang zuhud adalah orang yang mininggalkan harta, padahal tidakla demikian. Karena mininggalkan harta dan menampakkan hidup prihatin sangat mudah bagi orang yang mencintai pujian sebagai orang zuhud. Betapa banyak rahib yang setiap hari memakan makanan sedikit dan selalu tinggal di biarayang tidak berpintu, tapi tujuannya agar keadaaan mereka diketahui orang dan mendapatkan pujian. </span><span style="font-size:10pt;">Hal ini jelas tidak menunjukkan zuhud.</span></font><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Ada tiga tanda zuhud yang harus ada pada batin seseorang:</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:10pt;">1. </span><span style="font-size:10pt;"><font>Tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang.</font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:10pt;">Sebagaimana firman Allah, “Supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang hilang dari kamu dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” </span><span style="font-size:10pt;">(QS Al Hadid: 23)</span></font><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">2. Sama saja disisinya orang yang memuji dan orang yang mencacinya.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">3. Hendaknya Ia besama Allah dan Cinta Kepada Allah Mendominasi hatinya</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Karena hati tidak dapat terbebas sama sekali dari cinta, cinta dunia atau cinta Allah. Kedua cinta ini di dalam hati bagaikan air dan udara di dalam gelas. Apabila air dimasukkan ke dalam gelas maka udara pun keluar. Setiap orang yang ‘akrab dengan Allah pasti ia akan sibuk dengan-Nya dan tidak akan sibuk dengan selain-Nya. </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Jadi tanda zuhud adalah tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan; kemuliaan dan kehinaan; pujian dan celaan; karena adanya dominasi keakraban dengan Allah. Dari tanda-tanda ini muncul beberapa tanda lainnya.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Yahya bin Muadz berkata: “Tanda zuhud adalah kedermawanan dengan apa yang ada”.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Ibnu Khafif berkata: “Tandanya adalah adanya rasa lega dalam keluar dari kepemilikan.” Ia juga berkata: “Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.”</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Ahmad bin Hanbal berkata: “Tanda zuhud adalah pendeknya angan-angan.”</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Al Fudhail berkata: “Allah menjadilan segenap keburukan dalam rumah dan kuncinya adalah cinta dunia. Dan Allah menjadikan segenap kebaikan dalam rumah dan kuncinya adalah zuhud dari dunia.” </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alkayyis.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alkayyis.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alkayyis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alkayyis.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alkayyis.wordpress.com&amp;blog=2738542&amp;post=3&amp;subd=alkayyis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alkayyis.wordpress.com/2008/03/24/tanda-tanda-zuhud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
